Sistem Pengapian Kendaraan Beroda Empat Konvensional

System pengapian kendaraan beroda empat konvensional 

sistem pengapian konvensional ini berfungsi untuk menyediakan percikan api pada busi yang berkhasiat untuk pembakaran pada mesin. Tanpa ada sistem pengapian ini, maka kendaraan tidak akan bisa beroperasi.

Lihat juga :

KOMPONEN SISTEM PENGAPIAN KONVENSIONAL MOBIL terdiri dari :

     ini berfungsi untuk menyediakan percikan api pada busi yang berkhasiat untuk pembakaran pada Sistem Pengapian Mobil Konvensional
  • Baterai
  • Kunci kontak
  • Koil
  • Distributor
  • Busi
  • Kabel Tegangan Tinggi



    Baterai


    Baterai ialah alat listrik-kimiawi yang menyimpan energi dan mengeluarkannya dalam bentuk listrik. Fungsi baterai ialah sebagai penyedia listrik pada sistem kelistrikan pada kendaraan.

     ini berfungsi untuk menyediakan percikan api pada busi yang berkhasiat untuk pembakaran pada Sistem Pengapian Mobil KonvensionalKonstruksi
    Berdasarkan konstruksi baterai dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
    1. Konstruksi Comound
    Baterai ini sel-selnya berdiri sendiri-sendiri dan antara sel yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan lead kafetaria (connector) diluar case.
    2. Konstruksi Solid
    Baterai ini antara sel yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan lead kafetaria di dalam case. Terminal yang kelihatan hanya dua buah hasil korelasi seri dari sel-selnya.


    Tipe Baterai

    Ada 2 macam tipe baterai yaitu :

    1. Baterai Tipe Basah (Wet Type)

    Baterai tipe berair (wet type) terdiri dari elemen-elemen yang telah diisi penuh dengan muatan listrik (full charged) dan dalam penyimpanannya telah diisi dengan elektrolit. Baterai ini tidak bisa dipertahankan tetap dalam kondisi full charge. Sehingga harus diisi (charge) secara periodik.
    Selama baterai tidak digunakan dalam penyimpanan, akan terjadi reaksi kimia secara lambat yang menimbulkan berkurangnya kapasitas baterai. Reaksi ini disebut “self Discharge”.

    2. Baterai Tipe kering (Dry Type)

    Baterai tipe kering (Dry Type) terdiri dari plat-plat (positip & negatip) yang telah diisi penuh dengan muatan listrik, tetapi dalam penyimpanannya tidak diisi dengan elektrolit. Makara keluar pabrik dalam kondisi kering. Pada dasarnya baterai ini sama menyerupai dengan baterai tipe basah. Elemen-elemen bateraij ini diisi secara khusus dengan cara memperlihatkan arus DC pada plat yang direndamkan ke dalam larutan elektrolit lemah. Setelah plat-plat itu terisi penuh dengan muatan listrik, kemudian diangkat dari larutan elektrolit kemudian dicuci dengan air dan dikeringkan. Kemudian plat-plat tersebut dirangkai dalam case baterai. Sehingga biala baterai tersebut akan dipakai, cukup diisi elektrolit dan eksklusif bisa digunakan tanpa discharge kembali.

    Vent plug

    Vent plug terdapat pada tutup disetiap sel. Fungsinya ialah untuk mencegah masuknya debu dan kotoran kedalam sel. Fungsi yang lebih penting lagi ialah biar tersedia jalan masuk (lubang). Untuk membebaskan gas dan kemungkinan terbentuknya lagi asam sulfat yang terkandung di dalam uap asam yang terbentuk pada ketika pengisian baterai.
    Plat Positif Dan Plat Negatif


    • 1. Plat Positif

    Plat positip terbuat dari material PbO2 (lead peroxide) yang berwarna coklat tua


    • 2. Plat Negatif

    Plat negatif terbuat dari material Pb (spongy lead) yang berwarna kelabu.
    Untuk mencegah plat positif dan plat negatif bersinggungan, dipasang separator, yang terbuat dari polyvynil chloride (PVC) yang berpori-pori.
    Elektrolit (H2SO4)
    Standard berat jenis (specific gravity) elektrolit baterai pada temperatur standart (20 derajat celcius) ialah 1.280. Apabila temperatur larutan elektrolit berubah, maka standart berat jenis elektrolit baterai sanggup dicari dengan rumus :

    S 20 = St + 0,0007 (t – 20)
    Dimana : S20 = Berat jenis pada temperatur 20 derajat celcius
    St = Berat jenis pada temperature pengukuran
    t = Temperatur elektrolit

    Berat jenis elektrolit akan turun pada ketika baterai digunakan (discharge). Pada kondisi standart (20 derajat celcius), bila berat jenis elektrolit turun mencapai 1.200, maka baterai harus diisi kembali (charging). Bila jumlah elektrolit di dalam baterai berkurang, maka harus ditambah dengan air aki (air suling).
    Perubahan berat jenis elektrolit tergantung oleh :
    - - Discharge rate.
    - - Charge rate.
    - - Temperature.
    - - Jumlah dari asam sulfat yang terkandung dalam elektrolit.

    Larutan elektrolit sanggup membeku pada temperature tertentu. Oleh lantaran itu kalau menyimpan baterai boleh ditempat sedingin mungkin asalkan tidak hingga larutan elektronitnya membeku.

    Reaksi Kimia
    Baterai pada ketika discharging maupun recharging akan terjadi reaksi kimia
    Reaksi Kimia Pada Saat Discharging
    Yang dimaksud discharging ialah penggunaan isi (kapasitas) baterai.Reaksi kimia yang terjadi ialah :
     Pb O2 + 2 H2 SO4 Pb SO4 + 2 H2 O + Pb SO4
    Pada ahir discharging, plat positip dan plat negatip akan menjadi Pb SO4 dan elektrolitnya akan menjadi H2 O.

    Reaksi Kimia Pada Saat Recharging
    Recharging ialah proses pengisian baterai. Reaksi kimia yang terjadi ialah :
     Pb SO4 + 2 H2 O + Pb SO4 Pb O2 + 2 H2 SO4
    Ahir dari proses recharging ini, plat positip kembali menjadi Pb O2 dan plat negatipnya Pb, sedangkan elektrolit kembali terbentuk menjadi H2 SO4.

    Larutan Elektrolit
    Hasil gabungan 36 % Asam Sulfat dan 64 % air akan menghasilkan elektrolit yang berat jenisnya 1.270 pada 80 derajat F (27 derajat C). Larutan elektrolit ini terdiri dari pencampuran antara Asam Sulfat (H2SO4) yang berat jenisnya 1.835 dan air (H2O) yang berat jenisnya 1 dengan komposisi tertentu.

    Terminal Voltage
    Terminal voltage ialah batas tegangan baterai yang diijinkan pada ketika discharging dan recharging.
    a. Saat Discharging
    Ketika baterai digunakan dengan arus besar, sebagia teladan digunakan untuk memutar engine waktu start, maka tahanan dalam baterai akan naik. Hal ini tidak hanya disebabkan berkurangnya asam sulfat (yang semestinya untuk mempertahankan kecepatan reaksi kimia antara plat-plat dan elektrolit), tetapi juga akhir polarisasi baterai itu.
    b. Saat Recharging
    Pada ketika recharging ( arus pengisian kurang lebih seper sepuluh dari arus discharging rata-rata ) maka akan menghasilkan naiknya perbedaan potensial antara positip dan negatip. Pada ketika recharging tersebut, akan timbul gelembung-gelembung lantaran kejadian elektrolisa (penguraian) H2O. Gelembung-gelembung tersebut sanggup menimbulkan umur baterai pendek. Oleh lantaran itu, ketika recharging apabila sudah mencapai terminal voltage, maka recharging dihentikan.

    Self Discharge
    Suatu baterai yang telah diisi elektrolit, jikalau didiamkan (tidak dipakai) akan kehilangan muatan listriknya. Hal ini disebabkan, sehabis baterai diisi elektrolit, maka baterai mulai mengalami suatu reaksi kimia, meskipun baterai tersebut digunakan atau tidak. Sifat menyerupai ini tidak sanggup dihindarkan pada semua baterai. Kehilangan muatan listrik yang tersimpan tanpa pemakaian melalui rangakaian luar disebut “Self Discharge”
    Sebab-sebab self discharge sebagai berikut :
    1. Plat negatip beraksi eksklusif dengan asam sulfat dari elektrolit membentuk timbal sulfat (Pb SO4)
    2. Hubungan singkat antara plat positip dan plat negatip melalui endapan dari material aktif
    3. Jika suhu dan konsentrasi elektrolit tidak merata disekitar plat positif dan negatif akan terjadi reaksi elektrokimia local.
    Hal-hal menyerupai di atas ini yang menimbulkan muatan baterai akan berkurang meskipun tidak dipakai.
    Reaksi kimia yang terjadi dalam baterai akan lebih cepat dengan kenaikan suhu elektrolit. Hal ini juga berarti “Self Discharge” akan bertambah cepat jikalau suhu lebih tinggi. Makara penyimpanan baterai pada suhu rendah lebih efektif dalam memperkecil kecepatan “Self Discharge”.
    Faktor lain yang mempercepat “Self Discharge” ialah bila elektrolit atau air suling yang diisikan ke dalam baterai mengandung material-material yang tidak diinginkan, lantaran akan menjadikan reaksi local.

    Kapasitas Baterai
    Kapasitas baterai ialah jumlah listrik yang sanggup dihasilkan dengan melepaskan arus tetap, hingga dicapai voltage ahir. Besarnya ditentukan dengan mengalikan besar arus pelepasan dengan waktu pelepasan dan dinyatakan dalam AH (Ampere Hour).
    Makara untuk menyatakan kapasitas baterai, perlu ditentukan laju arus pelepasan. Karena kapasitas baterai tergantung dari berpengaruh arus pelepasan.
    Misalnya suatu baterai mempunyai kapasitas 100 AH untuk laju arus 20 jam. Ini berarti baterai tersebut sanggup melepaskan muatan sebesar 5 ampere selama 20 jam. Tapi tidak berarti bisa melepaskan muatan sebesar 10 ampere selama 10 jam. Makara jikalau ingin membandingkan kapasitas baterai perlu disamakan dahulu laju arus pelepasan muatan listriknya.

    Pengetesan Baterai
    Kondisi dari sebuah baterai ditunjukan oleh berat jenis larutan elektronitnya. Salah satu cara yang paling sederhana dan lebih dipercaya ialah dengan mengukur berat jenis dari larutan elektrolit. Alat untuk mengukur berat jenis elektrolit disebut “Hydrometer” dan dilengkapi dengan thermometer untuk mengetahui temperatur elektrolit.
    Hydrometer dikalibrasi untuk mengukur berat jenis elektrolit pada temperature standar (JIS) 20 derajat celcius (68 derajat F). Untuk memilih pembacaan berat jenis yang benar ialah sebagi berikut :
    - Bila suhu di atas 20 derajat C (68 derajat F), ditambah 0,0007 tiap kenaikan 1 derajat C.
    - Bila suhu di bawah 20 derajat C (68 derajat F), dikurangi 0,0007 tiap penurunan 1 derajat C.
    Sebagai contoh, pada suhu 49 derajat C didapatkan pembacaan berat jenis elektrolit 1,2597. Dimana pengukuran ini suhu elektrolitnya 29 derajat celcius di atas standar yang ditetapkan yaitu 20 derajat JIS. Sehingga pembacaan berat jenis yang sebetulnya dihitung dengan rumus sebagai berikut :
    S20 = St + 0,0007 (t – 20)
    = 1.2597 + 0,0007 (49 – 20)
    = 1,2597 + 0,0203
    = 1,28
    Makara pembacaan yang benar sehabis dikoreksi dengan temperature ialah 1,28

    Perawatan Baterai

    Berikut ini beberapa tips untuk merawat baterai kendaraan beroda empat :
    1. Memeriksa secara terjadwal kondisi air aki (bila Anda menggunakan aki basah). Jika indikatornya menyatakan kekurangan air, Segera tambahkan air aki sesuai dengan takarannya, sebelum kendaraan beroda empat dihidupkan di pagi hari. Mestinya air aki selalu terjaga di antara tanda low level dan upper level (biasa tertera pada sisi aki). Bila berada di bawah low level segera tambahkan, maksimal pada garis upper level. Karena, air aki berfungsi untuk membantu mendinginkan sel-sel aki. Bila air aki berkurang, sel-sel di dalam aki bisa menjadi berubah bentuk (melengkung).

    2. Setelah diisi dengan air khusus pengisi aki, diamkan beberapa saat, gres nyalakan kendaraan beroda empat Anda.

    3. Secara terjadwal juga harap menyidik terminal di aki (positif maupun negatif). Cek apakah terjadi korosi atau tidak. Korosi sanggup dibersihkan dengan menyiramkan air panas pada kedua terminalnya.

    4. Jika hendak mematikan mobil, harap matikan dahulu komponen-komponen kelistrikannya, contohnya lampu luar, AC, radio/tape, CD, charger handphone, dan lainnya.

    5. Jika kendaraan beroda empat tidak akan digunakan dalam jangka waktu yang lama, copot terminal negatif pada aki Anda. Kepala aki yang dicopot tersebut biar dibungkus dengan kain, untuk menjaga biar terminal negatif tersebut tidak bersentuhan dengan body mobil.

    6. Tiap 3 bulan sekali, jikalau Anda berkunjung ke bengkel, mohon biar dicek kondisi pengisian kelistrikan kendaraan beroda empat tersebut.

    Hal-hal yang perlu diperhatikan pada ketika penyimpanan baterai :
    1. Baterai yang tidak digunakan harus disimpan di daerah yang kering, sejuk dan tidak kena sinar matahari langsung, lantaran bias mempercepat reaksi kimia (self discharge)

    2. Baterai yang diterima lebih dahulu sebaiknya didahulukan pemakaiannya.

    3. Untuk baterai tipe basah, perlu adanya pengisian secara periodi, yaitu minimal 1 bulan sekali, untuk menjaga baterai tetap full charge dan tidak cepat rusak.

    Peringatan Keselamatan:
    Asam Sulfat sangat berbahaya, sanggup menimbulkan kulit dan mata teriritasi dan terbakar. Asam Sulfat juga sanggup menimbulkan ledakan pada beberapa kasus.
    Saat bekerja dengan Aki dan Elektrolit, lindungi diri Anda dengan beling mata pelindung, dan pelindung wajah. Pakailah materi garmen untuk melindungi wajah, tangan dan badan Anda.
    Selain hal-hal di atas, perhatikan dengan tindakan-tindakan pencegahan di bawah ini:
    1.Selalu bekerja di udara terbuka atau daerah yang mempunyai ventilasi besar pada ketika Anda bekerja dengan Aki.

    2.Pastikan daerah sekitar Anda bebas dari sumber api ataupun percikan api, bahkan rokok. Sumber Api sanggup menimbulkan Aki meledak.

    3.Selalu pastikan tutup pengisian Elektrolit tertutup bersahabat dan tepat.

    4.Jauhkan dari jangkauan anak-anak.

    5.Selalu putuskan korelasi kabel negatif terlebih dahulu pada ketika pelepasan Aki, dan menghubungkannya paling simpulan pada ketika pemasangan Aki.

    6.Jangan pernah bersentuhan dengan Aki pada ketika pengisian anutan listrik (charging), pengetesan, atau penyetruman mesin.

    7.Matikan semua kelistrikan sebelum menetapkan koneksi arus listrik.

    8.Sebelum menggunakan alat yang sanggup menghantarkan listrik (konduktor), pindahkan barang-barang yang mengandung metal yang ada pada tangan ataupun lengan (jam tangan).


    Kunci Kontak

    Kunci kontak berfungsi untuk menetapkan dan menghubungkan listrik pada rangkaian atau mematikan dan menghidupkan sistem. Kunci kontak pada kendaraan mempunyai 3 atau lebih terminal.
     ini berfungsi untuk menyediakan percikan api pada busi yang berkhasiat untuk pembakaran pada Sistem Pengapian Mobil Konvensional
    Terminal utama pada kontak ialah terminal B atau AM dihubungkan ke baterai, Terminal IG dihubungkan ke (+) koil pengapian dan beban lain yang membutuhkan, terminal ST dihubungkan ke selenoid starter. Jika kunci kontak tersebut mempunyai 4 terminal maka terminal yang ke 4 yaitu terminal ACC yang dihubungkan ke accesoris kendaraan, seperti: radio, tape dan lain-lainnya.
    Kunci kontak mempunyai 4 posisi yaitu: OFF, ACC, ON dan START.

     ini berfungsi untuk menyediakan percikan api pada busi yang berkhasiat untuk pembakaran pada Sistem Pengapian Mobil Konvensional



    Koil Pengapian


    Fungsi Koil
    fungsi koil pada sistem pengapian kendaraan sangat sederhana, yaitu menaikkan tegangan listrik dari aki yang cuma 12 volt, menjadi ribuan volt. Arus listrik yang besar ini disalurkan ke busi, sehingga busi bisa meletikkan pijaran bunga api.

     ini berfungsi untuk menyediakan percikan api pada busi yang berkhasiat untuk pembakaran pada Sistem Pengapian Mobil Konvensional
    Yang biasa disebut sebagai "koil racing", ialah koil yang bisa menghasilkan tegangan listrik jauh lebih besar ketimbang koil standar. Apabila koil standar rata-rata menghasilkan tegangan antara 12 ribu hingga 15 ribu volt, maka koil racing bisa menghasilkan tegangan antara 60 ribu hingga 90 ribu volt.

    Tentu saja, dengan tegangan listrik yang lebih besar itu, maka busi sanggup menghasilkan pijaran api yang juga lebih besar. Hasilnya ialah pembakaran yang lebih sempurna.

    Namun yang harus diingat adalah, tegangan besar bukan satu- satunya faktor penentu kualitas koil.

    Koil yang baik ialah koil yang bisa menghasilkan tegangan listrik relatif besar dan stabil pada hampir seluruh putaran mesin. Karena itu sehabis menghasilkan tegangan maksimal pada putaran mesin tertentu, kurva tidak boleh menukik terlalu tajam. Kurva yang menukik terlalu banyak, memperlihatkan kinerja yang jelek pada putaran (RPM) tinggi. Padahal pada RPM tinggi justru diperlukan pembakaran yang baik.

    Distributor


    Fungsi biro sanggup di bagi dalam 4 belahan ;

    1. Bagian pemutus / arus . Pada belahan ini terdiri daria. breaker point (contact point / point )

    Fungsinya ialah untuk menetapkan arus listrik dan menghubungkannya dari kumparan primer coil ke massa biar terjadi induksi pada kumparan sekunder coil .induksiterjadi pada ketika breaker point I putus atau terbuka
     ini berfungsi untuk menyediakan percikan api pada busi yang berkhasiat untuk pembakaran pada Sistem Pengapian Mobil Konvensional


    camlobe ( nok )
    Fungsinya ialah untuk mengungkit breaker point biar sanggup memutus dan menghubungkan arus listrik pada kumparan primer coil

    kondensor
      Fungsinya ialah untuk menghilangkan /mencegah terjadinya loncatan api atau bunga api listrik pada breaker point. Kemampuan dari suatu kondensor sanggup di tunjukkan dengan berapa besar kapasitasnya.kapasitas kondenser di ukur dalam (uf ) mikro farad.pada kendaraan Toyota ,condenser yang di pergunakan ada 3 macam ;
    Condenser kabel warna hijau kapasitasnya 0,15 uf
    Condenser kabel warna kuning kapasitasnya 0,22 uf Condenser kabel warna biru kapasitasnya 0,25 uf

    Terbakarnya breaker point sering juga di akibatkan oleh condenser yang tidak sesuai dengan kapasitasnya atau kapasitasnya tidak normal.

    2. Bagian Distributor

    Bagian ini berfungsi membagi – bagikan ( mendistribusikan )arus tegangan tinggi yang di hasilkan / di bangkitkan oleh kumparan sekunder pada ignition coil ke busi pada tiap –tiap silinder sesuai dengan urutan pengapian .bagian ini terdiri dari tutup biro dan rotor
    Lihat gambar ;

    3. Bagian Governor Advancer

    Bagian ini berfungsi untuk memajukan ketika pengapian sesuai dengan pertambahan mesin .bagian ini terdiri dari Governor weight dan governor spring ( pegas governor )


    4. Bagian Vakum Advancer

    Bagian ini berfungsi untuk memundurkan atau memajukan ketika pengapian pada ketika beban mesin bertanmbah atau berkurang. Bagian ini terdiri dari breaker plate vakum advancer ,yang akan bekerja atas dasar kevakuman yang terjadi di dalam intake manifold.




    Busi


    Busi (dari bahasa Belanda bougie) ialah suatu sparepart yang dipasang pada mesin pembakaran dalam dengan ujung elektroda pada ruang bakar. Busi dipasang untuk aben bensin yang telah dikompres oleh piston. Percikan busi berupa percikan elektrik. Pada belahan tengah busi terdapat elektroda yang dihubungkan dengan kabel ke koil pengapian (ignition coil) di luar busi, dan dengan ground pada belahan bawah busi, membentuk suatu celah percikan di dalam silinder. Hak paten untuk busi diberikan secara terpisah kepada Nikola Tesla, Richard Simms, dan Robert Bosch. Karl Benz juga merupakan salah satu yang dianggap sebagai perancang busi.

    Cara Kerja Busi:
     ini berfungsi untuk menyediakan percikan api pada busi yang berkhasiat untuk pembakaran pada Sistem Pengapian Mobil KonvensionalMesin pembakaran internal sanggup dibagi menjadi mesin dengan percikan, yang memerlukan busi untuk memercikkan gabungan antara bensin dan udara, dan mesin kompresi (mesin Diesel), yang tanpa percikan, mengkompresi gabungan bensin dan udara hingga terjadi percikan dengan sendirinya (jadi tidak memerlukan busi).

    Busi tersambung ke tegangan yang besarnya ribuan Volt yang dihasilkan oleh koil pengapian (ignition coil). Tegangan listrik dari koil pengapian menghasilkan beda tegangan antara elektroda di belahan tengah busi dengan yang di belahan samping. Arus tidak sanggup mengalir lantaran bensin dan udara yang ada di celah merupakan isolator, namun semakin besar beda tegangan, struktur gas di antara kedua elektroda tersebut berubah. Pada ketika tegangan melebihi kekuatan dielektrik daripada gas yang ada, gas-gas tersebut mengalami proses ionisasi dan yang tadinya bersifat insulator, berkembang menjadi konduktor.
    Setelah ini terjadi, arus elektron sanggup mengalir, dan dengan mengalirnya elektron, suhu di celah percikan busi naik drastis, hingga 60.000 K. Suhu yang sangat tinggi ini menciptakan gas yang terionisasi untuk memuai dengan cepat, menyerupai ledakan kecil. Inilah percikan busi, yang pada prinsipnya menyerupai dengan halilintar atau petir mini.


    Kabel Tegangan Tinggi

    Kabel tegangan tinggi berfungsi untuk menyalurkan arus listrik tegangan tinggi hasil induksi sekunder koil ke busi. Tegangan yang dialirkan sebesar 15.000 volt hingga 30.000 volt.
     ini berfungsi untuk menyediakan percikan api pada busi yang berkhasiat untuk pembakaran pada Sistem Pengapian Mobil Konvensional
    Kabel tegangan tinggi terdiri dari tembaga yang diisolasi dengan karet silikon, lantaran arus yang mengalir tegangannya sangat tinggi maka isolatornya sangat tebal.



    Mohon maaf apabila artikel wacana sistem pengapian kendaraan beroda empat konvensional ini kurang lengkap atau kurang berkenan.

    Belum ada Komentar untuk "Sistem Pengapian Kendaraan Beroda Empat Konvensional"

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel