Malaikat Dan Jibril As Makhluk Ciptaan Allah Yang Bisa Menembus Batas Ruang Dan Waktu


Allah SWT ialah sang pencipta segala makhluk di langit dan di bumi. Banyak sekali makhluk ciptaan Allah yang mustahil untuk kita mengetahui seluruhnya. Dia telah membuat seluruh makhluk dengan materi yang berbeda-beda, sehingga makhluk yang Dia ciptakan itu mempunyai sifat – sifat fisik yang berbeda-beda pula. Manusia, yang seluruh keturunannya berasal dari Nabi Adam AS diciptakan oleh Allah dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam kemudian diberi bentuk. Bangsa jin berasal dari api yang sangat panas. Sedangkan malaikat diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya.

Manusia berasal dari tanah, sedangkan tanah sendiri memilki sifat keras, berat sanggup disentuh dan dirasakan. Maka dari itulah insan menjadi makhluk yang kasat mata, sanggup disentuh dan tidak sanggup bergerak cepat alasannya ialah pergerakannya dibatasi oleh beratnya yang cukup besar. Bangsa jin diciptakan dari api yang bersifat ringan, gampang digerakkan oleh angin dan panas. Ini membuat bangsa jin tidak kasat mata, tidak sanggup disentuh dan sanggup bergerak sangat cepat. Malaikat diciptakan dari suatu sumber yang indah, yaitu cahaya yang bersifat terang, ringan dan sangat cepat menjalarnya. Bahan dasarnya ini membuat malaikat tidaklah kasat mata dan gerakannya sangat cepat sekali sehingga tidak sanggup ditandingi oleh makhluk mana pun.

Malaikat ialah makhluk ciptaan Allah yang Dia ciptakan untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu, tidak mempunyai hawa nafsu yang sanggup membuat mereka berpaling dari perintah-Nya serta akan selalu taat dan patuh kepada -Nya. Sebagian malaikat-Nya ada yang diberi kiprah untuk mengurusi dunia ini dan makhluk-makhluk yang berada di dalamnya. Dengan adanya malaikat ini tentunya bukan berarti Allah tidak sanggup atau kesulitan untuk mengurusi sendiri makhluk ciptaan di dunia ini, melainkan alasannya ialah Dia ialah Maha Raja, dimana seorang raja pastilah mempunyai wakil-wakil yang diberi kiprah untuk mengurusi semua tanpa harus sang raja sendiri yang turun tangan. Apalagi Allah SWT, Dia ialah Raja di atas raja sehingga lebih berhak untuk mempunyai wakil-wakil yang mewakilinya dalam mengurus segala sesuatu.

Allah mustahil membebani makhluk ciptaanNya dengan sesuatu yang mustahil ia lakukan, begitu pula dengan para malaikatNya. Karena tugas-tugas yang diembankan kepada mereka, para malaikat, membutuhkan kecepatan yang tinggi maka mereka diciptakan mempunyai kemampuan bergerak dengan sangat cepat sekali. Tentunya kecepatan terbang mereka diadaptasi juga dengan kiprah mereka masing-masing –dan hanya Allah SWT yang mengetahuinya- , sehingga kemampuan terbang mereka bisa jadi berbeda-beda.

“Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang mengakibatkan malaikat sebagai utusan - utusan ( untuk mengurus banyak sekali - macam urusan ) yang mempunyai sayap masing - masing ( ada yang ) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan - Nya apa yang dikehendaki - Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Surat Al Fathir ayat 1).

Ayat di atas sangat terang bagi kita bahwa di antara para malaikat ada yang mempunyai sayap 2 pasang, 3 pasang, 4 pasang dst yang sesuai dengan kehendak-Nya. Bahkan dalam suatu hadits dikabarkan bahwa Rasulullah pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya yang mempunyai 600 pasang sayap. Allah telah melebihkan malaikat-Nya yang satu dengan yang lainnya berdasarkan apa yang diinginkan-Nya sesuai dengan kiprah dan kedudukannya masing-masing. Bisa jadi jumlah sayap itu memperlihatkan kemampuan kecepatan terbang malaikat-malaikat tsb, ibarat mesin jet pada pesawat terbang, maka kalau mesin itu ditambahkan maka akan semakin cepat pesawat tsb terbang. Tetapi bisa jadi itu memperlihatkan kedudukan mereka di sisi Allah SWT, wallahu’alam.

Telah disebutkan bahwa para malaikat mempunyai kemampuan untuk bisa bergerak cepat, bahkan sanggup menembus batas ruang dan waktu yang mustahil dicapai oleh insan tanpa mukjizat dari Allah. Hanya satu orang insan saja yang diberikan-Nya kesempatan untuk bisa menembus batas ruang dan waktu yang sanggup dilalui oleh malaikat, yaitu Rasulullah SAW yang kisahnya akan kami ceritakan lebih lanjut di Bab V InsyaAllah.

Untuk lebih mengetahui wacana seberapa cepatnya para malaikat itu bergerak, marilah kita tinjau di dalam Surat Al Ma’arij ayat 4 berikut, “Malaikat - malaikat dan Jibril naik ( menghadap ) kepada Allah dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.“

Apa maksud dari ayat ini ?. Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa beberapa jago tafsir terdahulu, salah satunya ialah Abu Abdillah Al-Hulami sebagaimana yang dikutib oleh Al Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitabnya, Al Ba’tsu wa An Nusyur menyampaikan bahwa “Malaikat menempuh jarak tersebut dalam tempo setengah hari. Karena, kalau itu merupakan ukuran jarak yang bisa ditempuh, maka tidak akan ada seorang pun yang bisa menempuhnya kecuali dalam jangka waktu 50.000 tahun.” Dari sini sanggup kita ambil kesimpulan bahwa kalau malaikat dan Jibril menghadap kepada Allah ( di Sidratul Muntaha kawasan dikala Rasulullah SAW berdialog pribadi dengan Allah dikala Mi’raj, wallahu’alam ) akan menempuh waktu sehari atau setengah hari kalau berdasarkan pendapat Abu Abdillah Al Hulami. Sehari di sini tentunya ialah sehari ibarat hari-hari yang dihitung di dunia (oleh manusia), yaitu 24 jam atau kurang dari itu. Sedangkan kalau insan yang mengarungi jarak yang sama dengan malaikat itu, maka tidak akan hingga melainkan harus menempuhnya selama 50.000 tahun. Bayangkan saja, perbandingan ini terpaut sangatlah jauh, 1 hari dibandingkan dengan 50.000 tahun (18,25 juta hari), maka akan sulit sekali untuk membayangkan seberapa cepat para malaikat itu bergerak. Dengan kecepatan terbang yang sangat luar biasa itulah, para malaikat dan Jibril sanggup menembus batas langit dan bumi dengan sangat gampang sekali.

Kemudian, siapakah para malaikat yang dimaksud oleh Allah pada ayat 4 surat Al Ma’arij di atas ?. Jika yang dimaksud ialah malaikat pendamping insan maka ada suatu hadits riwayat Bukhari dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda “Malaikat malam dan malaikat siang silih berganti tiba kepada kalian, mereka berkumpul pada dikala shalat Shubuh dan shalat Ashar, kemudian yang bersama kalian naik kepada-Nya, maka Dia tanyakan kepada mereka -dan Dia lebih mengetahui wacana mereka-, “Bagaimana keadaan hamba-hambaku ketika kalian meninggalkannya?” mereka berkata, “Ketika kami tinggalkan mereka sedang shalat, dan ketika kami datangi mereka pun sedang shalat.”

Malaikat pendamping insan silih berganti datangnya setiap Ashar dan Shubuh. Jika malaikat malam datang, maka mereka tiba pada dikala Ashar dan mendampingi hingga Shubuh esok hari, sedangkan malaikat siang tiba pada dikala Shubuh dan kembali pada dikala Ashar. Otomatis di sini malaikat malam dan siang hanya menjalankan kiprah selama 11 – 13 jam saja atau sekitar 0,5 hari, yaitu jarak waktu antara shalat Ashar dan Subuh selanjutnya naik kepada Allah. Berarti sisa waktu mereka ialah 0,5 hari lagi untuk naik kepada Allah kemudian turun lagi ke bumi ini. Karena jarak antara bumi - Sidratul Muntaha sama dengan jarak baliknya, yaitu Sidratul Muntaha - bumi, sehingga seharusnya mereka hanya membutuhkan waktu sekitar separuh dari 11-13 jam itu (sekitar 5,5-6,5 jam) untuk menghadap-Nya dari bumi dan kembali ke dunia dari Sidratul Muntaha dalam waktu yang sama (sekitar 5,5-6,5 jam). Ini berarti waktu mereka untuk pergi dari bumi ke Sidratul Muntaha ataupun sebaliknya hanyalah sekitar 0,25 hari saja. Makara di sini tentunya mereka tidak memerlukan waktu yang usang untuk mencapai Sidratul Muntaha, alasannya ialah Allah telah memperlihatkan kelebihan kepada mereka dengan kemampuan bergerak sangat cepat bahkan jauh lebih cepat daripada kecepatan cahaya yang diketahui oleh manusia.

Menurut postulat Einstein yang telah kami utarakan di artikel sebelumnya dikatakan bahwa tidak ada kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Berarti kemungkinan besar kecepatan malaikat ini melanggar postulat Einstein. Tetapi bukan berarti apa yang dipostulatkan Einstein ialah suatu kesalahan, mengapa ?. Jawabannya ialah alasannya ialah hingga kini belum ada satu pun kecepatan di alam semesta ini yang melebihi kecepatan cahaya berdasarkan apa yang sanggup diindera dan diteliti oleh manusia. Sedangkan malaikat, ia bukanlah sesuatu yang sanggup dilihat oleh insan apalagi mengukur kecepatannya secara eksak. Di dalam ilmu fisika, segala sesuatu harus sanggup diindera dan dihitung, sedangkan malaikat ialah makhluk mistik yang tidak tampak dan mustahil diukur dengan besaran fisika. Jadi, cukuplah kita mempercayai bahwa bergotong-royong masih ada kecepatan yang lebih tinggi daripada kecepatan cahaya alasannya ialah malaikat mungkin saja diciptakan dari cahaya yang bukan ibarat yang kita kenal kini ini. Sedangkan rumusan yang ditulis oleh Einstein tetap bisa berlaku untuk kondisi aktual di alam ini.

Dari ayat di atas juga sanggup kita ketahui bahwa malaikat-malaikat dan Jibril cukup menempuh perjalanan selama 1 hari saja untuk menghadap Allah. Satu hari yang dimaksud di sini ialah ibarat hari-hari yang kita hitung di dunia ini. Bagaimana dengan waktu perhitungan di langit ?. Surat Al Hajj ayat 47 sebelumnya telah mengabarkan kepada kita bahwa 1 hari berdasarkan perhitungan Allah di langit ialah 1000 tahun berdasarkan perhitungan kita di dunia. Maka kalau malaikat naik menghadap Allah dalam waktu 1 hari yang ialah 24 jam berdasarkan waktu kita di bumi, maka waktu naiknya malaikat akan sangat singkat sekali, hanya sekitar 0,24 detik saja berdasarkan perhitungan Allah. Angka ini tentunya bisa lebih kecil lagi kalau ternyata yang dimaksud 1 hari bukanlah 24 jam, tetapi hanya seperempat hari saja ibarat analisa wacana malaikat pendamping insan di atas.

Belum ada Komentar untuk "Malaikat Dan Jibril As Makhluk Ciptaan Allah Yang Bisa Menembus Batas Ruang Dan Waktu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel