Kisah Asing Terpilihnya Umar Bin Abdul Aziz Sebagai Khalifah

Kisah Ajaib TerpilihnyA Umar bin Abdul Aziz Sebagai Khalifah Kisah Ajaib TerpilihnyA Umar bin Abdul Aziz Sebagai Khalifah

Orang besar, hebat, luar biasa, andal ilmu menyerupai Umar bin Abdul Aziz mustahil meminta jabatan khalifah untuk dirinya. Ia tentu ingat pesan Rasulullah kepada ummatnya untuk tidak meminta jabatan atau tidak menunjukkan jabatan kepada orang yang memintanya.

Hal inilah yang dilihat dengan terang oleh Raja' bin Haiwah, spesialis fiqih, ulama' besar ketika itu. Raja' menilai bahwa Umar ini mempunyai kompetensi dan persyaratan yang mumpuni untuk memimpin ummat. Tapi raja' juga memahami bahwa Umar mustahil meminta jabatan ini. Ia melihat bahwa orang menyerupai Umar itu harus dimunculkan ke permukaan. Baru kemudian sesudah muncul diberikan pertolongan yang kuat.

Jasa terbesar Raja' bin Haiwah dalam sejarah peradaban Islam adalah, keberhasilannya dalam membujuk Sulaiman bin Abdul Malik untuk mewasiatkan tampuk kekhilafahan kepada Umar bin Abdul Aziz ketika dirinya sedang sakit keras. Usulan itu disepakati oleh Sulaiman dan alhasil tampil-lah Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah yang fenomenal.

Ibnu Sirin berkata, "Semoga Allah merahmati Sulaiman. Ia mengawali kepemimpinannya den-gan menghidupkan kembali shalat sempurna pada waktunya dan mengakhiri kepemimpinannya dengan mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai penggantinya. Ia meninggal pada tahun 99 H. umar bin Abdul Aziz ikut hadir menshalatkannya. Dan di cincinnya tertulis, "Aku beriman pada Allah dengan ikhlas."

Banyak riwayat yang menceritakan ihwal perjalanan bagaimana Sulaiman menentukan Umar untuk menggantikannya. Diantara riwayat yang yaitu riwayat Ibnu Sa'dSuhail bin Abi Suhail.

Hari itu yaitu hari jum'at. Sulaiman bin Abdul Malik menggunakan pakaian berwarna hijau yang terbuat dari sutera. Lalu ia bercermin dan berkata, "Demi Allah, saya yaitu raja muda." Kemudian ia keluar ke masjid untuk memimpin shalat Jum'at.

Saat pulang ia mencicipi badannya panas tinggi. Setelah merasa berat, iapun segera menulis surat. Didalamnya ia mewasiatkan kepada Ayub, salah seorang puteranya yang masih kecil, belum baligh, untuk menjadi khalifah setelahnya.

Mengetahui hal itu, Raja' pun segera bertanya, "Apa yang kau perbuat wahai Amirul Muk-minin? Sesungguhnya diantara yang akan menjaga seorng khalifah di kuburnya yaitu hendaklah ia menentukan pengganti orang yang shalih.

"Aku sudah mempertimbangkannya." jawab Sulaiman. Setelah berlalu satu atau dua hari alhasil surat wasiat itu dibakar. Lalu Sulaiman memanggil Raja' bin Haiwah.

"Bagaimana menurutmu dengan puteraku, Daud bin Sulaiman?" paparnya.
"Ia sedang di Konstantinopel. Sedang engkau tidak tahu, apakah beliau masih hidup atau sudah mati."
"Menurutmu siapa, Raja'?"
"Aku ikut pendapatmu, wahai Amirul Mukminin." jawab Raja' merendah.
"Aku hanya ingin tahu saja siapa menurutmu."
"Bagaimana kalau Umar bin Abdul Aziz?"
"Sungguh saya sangat mengenalnya sebagai orang mulia dan pilihan. Tapi jikalau saya memilihnya, dan saya tidak menentukan salah satu dari keturunan Abdul Malik, sungguh akan terjadi fitnah. Mereka tidak akan membisu begitu saja. Kecuali jikalau saya menimbulkan salah satu dari mereka khalifah setelahnya. Mungkin Yazid bin Abdul Malik? Yazid bin Abdul Malik bisa saya jadikan khalifah setelahnya nanti. Bagaimana?"
"Setuju."
Kemudian Abdul Malik menulis;
Bismillahirrahmanirrahim
Ini yaitu surat dari Abdullah Sulaiman Amirul Mukminin untuk Umar bin Abdul Aziz. Sesungguhnya saya mengangkatmu sebagai khalifah setelahku. Dan sesudah itu yaitu Yazid bin Abdul malik. Maka dengarkanlah ia dan taatlah kalian kepadanya. Bertakwalah kalian pada Allah dan jangan bercerai berai.

Setelah itu surat wasiat itu distempel. Kemudian Sulaiman mengirimkan perintah kepada Ka'ab bin Hamid, salah seorang kepala penjaga, untuk mengumpulkan anggota keluarga. Setelah semuanya berkumpul, Sulaiman berkata kepada Raja', "Bawalah surat wasiat ini kepada mereka. Kabarkan pada mereka bahwa ini yaitu surat wasiat dariku. Suruhlah mereka untuk membaiat orang yang namanya kutulis didalamnya."
Raja' melaksanakan perintah Sulaiman. Setelah menengar klarifikasi dari raja', mereka berkata, "Kami mendengar dan kami mentaati siapa yang namanya ditulis di dalamnya. Sekarang kami ingin bertemu dengan Sulaiman."

Merekapun masuk menemui Sulaiman. Kemudian Sulaiman berkata, "Surat itu yaitu wasiatku. Dengarkanlah kalian, ta'atilahdan bai'atlah orang yang namanya kutulis disana."

Setelah semuanya pergi, tiba-tiba Umar bin Abdul Aziz tiba menemui Raja'. "Wahai Abul Miqdam, bahwasanya Sulaiman mencintaiku dan menghormatiku. Ia juga baik dan lemah lembut padaku. Aku takut jikalau beliau melibatkanku dalam urusan ini. Maka atas nama Allah, penghormatanku dan kasih sayangku, saya memintamu untuk mengabariku. Jika memang memang itu benar, maka saya akan mengundurkan diri mulai sekarang, sebelum tiba keadaan yang mana saya tak bisa lagi untuk mengundurkan diri."
"Demi Allah, satu abjad pun tak akan kuberitahu." jawab Raja'. Umar pun pergi dalam keadaan marah. Setelah itu datanglah Hisyam bin Abdul Malik menemuiku.

"Wahai Raja', sungguh saya menghormatimu dan mencintaimu semenjak dulu. Beritahukan kepadaku, apakah wasiat itu untukku? Jika untukku maka saya telah mengetahui. Tapi jikalau bukan maka saya akan angkat bicara. Tidak ada yang lebih pantas dariku. Beritahu aku, semoga Allah mem-berimu pahala dan saya tidak akan menyebut namamu selamanya." kata Hisyam bin Abdul Malik.

"Demi Allah, satu abjad pun tak akan kuberitahu." jawab Raja'. Hisyam beranjak pergi sesudah memukulkan kedua tangannya dalam keadaan murka sambil berkata, "Akankah keluar dari ketu-runan Abdul Malik!"
Kemudian Raja' masuk menemui Sulaiman. Ternyata ia sudah meninggal. Lalu Raja' menye-limutinya dengan kain hijau dan menutup pintu kamar. Lalu datanglah utusan istrinya hendak meli-hatnya. Setelah bertanya ihwal keadaannya, Raja' menjawab, "Ia telah tidur dan menggunakan selimut."

Raja' menunjuk salah seorang kepercayaannya untuk bangun di depan pintu, menjaga semoga jangan samapi ada siapapun yang masuk. Kemudian Raja' menyuruh Ka'ab bin Hamid al-Ansi untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarga kerajaan. Merekapun berkumpul di Masjid Dabiq.
"Lakukanlah bai'at" pinta Raja' pada mereka.
"Kami sudah membai'at. Apakah harus dua kali melakukannya?!' jawab mereka.
"Ini yaitu perintah Amirul Mukminin. Lakukanlah baiat kepada nama yang tertulis di dalam surat ini sesuai perintahnya."
Merekapun alhasil melaksanakan bai'at untuk yang kedua kalinya satu-persatu. Setelah selesai Raja' berkata, "Bangkitlah kalian. Sesungguhnya khalifah telah meninggal."
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un." sahut mereka.

Lalu Raja' membacakan surat wasiat itu. Ketika hingga pada nama Umar bin Abdul Aziz, tiba-tiba Hisyam berteriak, "Kami tak akan membai'atnya selamanya!!"
"Demi Allah, saya akan penggal lehermu! Berdiri dan berbai'atlah!" sahut Raja'.

Hisyampun berjalan dengan berat. Raja' berjalan mendekati Umar dan mendudukkannya di atas mimbar. Berkali-kali Umar melafadhkan kalimat istirja' alasannya yaitu wasiat itu diamanahkan un-tuknya. Sedang Hisyam melafadhkan istirja' alasannya yaitu merasa bersalah.

Setelah hingga di akrab Umar, Hisyam berkata, "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Urusan ini jatuh kepadamu, bukan pada keturunan Abdul Malik."

Umar bin Abdul Aziz menjawab, "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Urusan ini jatuh padaku padahal saya membencinya." 1

Belum ada Komentar untuk "Kisah Asing Terpilihnya Umar Bin Abdul Aziz Sebagai Khalifah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel